Padi, Petani dan Rendah Hati
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Padi, Petani dan Rendah Hati

DEZALB/PIXABAY

Saat hendak memasak nasi pagi tadi, wadah di mana beras biasa saya simpan di sana sudah kosong, hanya tinggal empat sampai lima butir saja. Kehidupan anak kos yang sok hemat, tapi di saat yang sama juga kesusahan mengatur keuangannya. Tapi, pada kesempatan ini kita tidak akan bicara soal keuangan.

Tiba-tiba saja saya teringat pada Penyangga Tatanan Negara Indonesia. Iya, mereka adalah Petani, orang-orang kuat nan penuh ketulusan yang selalu menjadi pahlawan negeri ini. Kendati demikian, nasib mereka juga sering terlupakan.

Di Sawah sana, mereka berjemur di bawah tengah terik matahari, sesekali bertengkar karena rebutan aliran air, tak sampai di situ para petani juga terus berjuang membeli pupuk dengan harga yang mahal.

Kita bisa saja mengajukan pertanyaan: Kenapa dengan negara sekaya Nusantara kita tak melihat kesejahteraan Petani?

Alhasil akan ada banyak spekulasi yang muncul untuk menjawab pertanyaan itu. Mulai dari subsidi yang kurang dari pemerintah, harga pupuknya yang mahal, hingga rantai tengkulak yang amat panjang.

Namun, kali ini kita coba mengintip ketulusan para petani. Mereka adalah manusia dengan ketulusan mendalam pada Tuhan, siang hari bekerja seharian, saat malam tiba mereka begitu syahdunya mendekati Tuhan, di atas sajadah kadang air mata kerinduan jatuh.

Di tengah terik matahari, dengan pakaian lusuh, badan berkeringat, tidak lupa mereka menyembah Tuhan di sela pekerjaannya.  Tak jarang kita melihat hamba-hamba Tuhan itu Shalat di atas daun.

Saat panen tiba, beberapa bagian dari hasilnya dibagikan. Dengan penuh kegembiraan ia bagikan hasil taninya itu kepada anak di Rantau, kepada Kyai Kampung serta tetangga-tetangga di sekitar rumah.

Tidak malu-kah Kita? Jumawa dan mencari popularitas. Tidak malu-kah kita? Menyembah Tuhan pun ingin di lihat banyak orang.

Sementara itu, padi memang selalu mengajarkan banyak hal pada kita. Kata Kyai di sudut desa sana: Semakin berisi, semakin tunduk. Selanjutnya. Kiranya para petani mewariskan ilmu rendah hati pada kita, untuk ke sekian kalinya saya menegaskan kembali: Bukankah hanya dengan mendongak ke langit, kita sudah terasa amat kecil?

Jauh-jauh hari, agama telah mengajarkan pada kita untuk menyucikan jiwa. Menjauhi sifat iri dan benci, mengutamakan berbaik sangka, bersyukur dan Ikhlas. Jalan itu tak akan sampai jika tak melalui jembatan rendah hati. Sebab, apa pun yang dilakukan dengan penuh kesombongan, pastilah menemui kebuntuan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Kami

Sibiren.com lahir dari jalanan, rahim kandung peradaban, tanpa beraffiliasi ke organisasi manapun, Kami berkomitmen menjaga independensi dalam setiap gerakan.

Merawat budaya, Menghidupkan tradisi ilmiah dan Mengutamakan kemanusiaan adalah kunci utama dalam membangun jembatan menuju Peradaban Indonesia yang Futurusitik. Inilah jalan kami ikhtiarkan.  Inilah jembatan kecil yang kami sebut Care For Humanity, Hone Intellectuality, Strengthen Spirituality

Sibiren.com dengan semangat ingin menyuguhkan ide yang beragam dalam Indonesia kita. Solidaritas, Intelektualitas dan Spiritualitas adalah 3 hal utama yang menjadi fokus kita untuk di perkuat di Bumi Nusantara sebagai Ikhtiar menuju Bangsa yang memiliki Peradaban Maju.